Kasus Perceraian Tinggi Disebabkan Faktor Ekonomi

Home / Berita / Kasus Perceraian Tinggi Disebabkan Faktor Ekonomi
Kasus Perceraian Tinggi Disebabkan Faktor Ekonomi Setiap hari begitu ramai di Pegandilan Agama Sumenep. (Foto Busri Toha / TIMESIndonesia)

TIMESSLEMAN, SUMENEP – Kasus perceraian dengan mayoritas gugat cerai dilakukan oleh istri di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, terus mengalami peningkatan. Bahkan setiap hari terjadi perceraian mulai dari 8 hingga 10 kasus perceraian dengan alasan ekonomi.

Berdasarkan data di Pengadilan Agama Sumenep, kasus perceraian dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sangat signifikan. Bahkan, pada tahun 2015, angka perceraian hanya dikisaran 1738. Sedangkan 2016 mencapai 2012 kasus perceraian.

Panitera Pengadilan Agama Sumenep, Moh Ali Syamsi mengatakan, setiap hari, Pengadilan Agama Kabupaten Sumenep, memutuskan kasus peceraian dengan rata-rata 8 hingga 10  pasangan, sehingga selama satu bulan, ada sekitar 167 dan 2012 pasangan resmi bercerai per tahun.

”Mayoritas gugatan cerai dilakukan oleh istri kepada suami. Latar belakang gugatan, kebanyakan karena persoalan ekonomi, usia pasangan yang mengajukan cerai, kisaran 25 hingga 45 tahun,” terangnya.

Menurutnya, angka penceraian dipastikan akan selalu meningkat karena bertambahnya penduduk dan persoalan ekonomi yang dihadapi oleh pasangan suami isteri.

”Dengan bertambahnya penduduk dan persoalan ekonomin, setiap tahun angka penceraian selalu meningkat,” terangnya. (*)

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com