Dokter Ryu Hasan Kupas soal Hubungan Percintaan, Begini Katanya

Home / Gaya Hidup / Dokter Ryu Hasan Kupas soal Hubungan Percintaan, Begini Katanya
Dokter Ryu Hasan Kupas soal Hubungan Percintaan, Begini Katanya Dr Ryu Hasan Sp. BS ketika menyampaikan materi kepada para peserta talkshow. (FOTO: Dwijo Suyono/TIMES Indonesia)

TIMESSLEMAN, YOGYAKARTA – Patah hati adalah sebuah situasi yang sangat menyusahkan. Bahkan, seringkali membuat seseorang tidak berdaya dalam hidupnya. Apa penyebab patah hati dan bagaimana prosesnya dalam dunia medis. Inilah inti tema yang diangkat dr Ryu Hasan Sp. BS dalam talk show yang gelar oleh AA Creative di sebuah cafe di Sleman, Jumat (14/2/2020).

Ryu Hasan mengatakan, masyarakat kita seringkali bersikap rese, usil dan selalu ingin tahu apapun yang dilakukan pasangan.

“Ada saja yang suka buka ponsel milik pasangan. Cek sana cek sini. Apa dia siap sakit hati kalau tahu isi ponsel pasangan?. Sudah jangan usil, nanti kalau tahu malah marah. Padahal pasangan kita tidak memberi tahu justru mungkin khawatir kita marah,” kata Ryu Hasan.

Menurut Ryu Hasan, hubungan suami istri, hubungan dengan pacar dan lain sebagainya, perlu terus dilatih. Selain mengembangkan kecerdasan emosi, latihan ini juga penting untuk mengembangkan kecerdasan sosial. Selain itu, sebagai individu, setiap orang juga harus belajar untuk menghargai wilayah private orang lain, sekalipun itu pasangan kita.

“Jangan membiasakan emosi melanggar dan membajak rasionalitas. Itu akan berbahaya. Jangan pula kita selalu mempersoalkan masa lalu. Mengapa, karena setiap orang mempunyai masa lalu. Entah yang baik atau yang buruk. Akan lebih baik fokus dengan masa sekarang dan masa depan,” terang Ryu.

Ryu menerangkan, apa yang terjadi di masyarakat saat ini, memang merupakan dampak langsung dari sistem pendidikan yang selalu lebih mengejar aspek kognitif ketimbang menyentuh aspek kecerdasan emosi peserta didik. Padahal kecerdasan emosi, menjadi dasar dari kecerdasan sosial.

Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, sekitar 90 persen kehidupan itu di dikendalikan atau didrive oleh kecerdasan emosional dan sosial. “Untuk apa melatih anak menghitung cepat? Kan ada kalkulator. Dari dulu seperti itu,” ungkap Ryu mencela.

Kecerdasan emosi, perlu terus dilatih, Porsi ini harus diberikan lebih longgar, agar kecerdasan emosi berkembang maksimal bagi setiap orang.

Ryu lantas mencontohkan, bagaimana cara Jepang mendidik disiplin warganya. Di Jepang, anak-anak sejak dini dilatih untuk menjaga kebersihan dengan menyimpan sampah di saku atau di tas dan selanjutnya dibuang di tempat sampah.

Sedangkan di Indonesia, ada sampah di saku atau tas, justru dimarahi orangtua. Begitu pula budaya antre, sejak dini mereka dilatih untuk antre sembari praktik. Ditunjukkan, kalau antre tertib maka hanya butuh 10 menit untuk dilayani.

“Sebaliknya kalau semua berebut, maka pelayanan butuh waktu misalnya 1 jam. Jadi mereka harus benar-benar tahu dan memahami kepentingannya,” papar Ryu Hasan lanjut.

Menurut Almira dari AA Creative, talkshow yang menghadirkan dr Ryu Hasan ini merupakan salah satu upaya untuk mengisi peringatan Hari Valentine. Dia melihat, ada kecenderungan remaja-remaja zaman sekarang abai dengan kecerdasan emosi dan kecerdasan sosial. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com